EDUKASI MASSA

Jika selama ini pemilu berjalan dengan cara mencoblos kemudian di ubah dengan cara mencontreng, maka muncul beberapa kejadian lucu yang terekam selama pemilu legislatif yang berlangsung tanggal 9 April 2009 kemarin.

Kejadian 1
Seorang Bapak – bapak datang ke TPS dengan harapan akan mencontreng nama salah seorang caleg yang kebetulan memang dia kenal, satu asumsi yang selama ini tertanam dalam benaknya bahwa nanti dia akan melihat foto sang caleg di lembar kertas suara, sesampainya disana ternyata yang ada adalah daftar nama, tanpa melihat kanan kiri akhirnya bapak – bapak ini akhirnya mencontreng nama dan partai berbeda dari tujuan awalnya.

Kejadian 2
Dalam satu desa ada dua orang caleg dengan sosialisasi yang sama kuat, sama – sama karismatik, sama – sama memiliki basis massa, ketika seorang ibu – ibu datang hendak memilih yang terjadi adalah nama kedua caleg dicontreng sedangkan kedua caleg tersebut mendaftar di DPRD Dapil yang sama sehingga kartu suara yang hangus menjadi banyak.

Kejadian 3
Seorang anak muda membuka kartu untuk DPD ketika menemukan gambar yang tidak dia kenal akhirnya kartu suara tersebut tidak diapa – apakan alias masih bersih dari contrengan.

Tiga kejadian diatas mewakili sebuah realita yang berlangsung di masyarakat, sebuah perubahan tanpa edukasi massa yang benar dan terukur membuat sebuah momen 5 tahunan berakhir dengan kejadian suara hangus dan tidak sah, fenomena ini layak menjadi sebuah bahan evaluasi apakah cara mencontreng lebih efektif dari cara mencoblos.

Masyarakat adalah komunitas heterogen yang membutuhkan sebuah pengetahuan baru, membutuhkan pencontohan yang berulang -ulang sehingga aktivitas mencontreng menjadi lebih mudah diterima jika memang mereka sudah menganggap cara tersebut familiar, naiknya jumlah golput dan kartu suara hangus perlu mendapatkan perhatian dari pengambil kebijakan.

Masyarakat adalah pembelajar yang senantiasa membutuhkan edukasi, jika semua dilakukan dengan benar, sistematis dan terukur maka kejadian kartu suara hangus bisa ditekan seminimal mungkin, semoga kelak kejadian seperti ini bisa diantisipasi dengan komunikasi massa yang baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: